faithhopelove

Name:
Location: Bandung, West Java, Indonesia

Wednesday, March 02, 2005

Sayap-sayap Hati

Sayap-sayap Hati

Saat pagi masih redup dalam gelap
Dan dirimu terjaga di tengah-tengah senyap;
Ketika engkau menjumpai dirimu letih lesu,
Diamlah sebentar…
Lihatlah setiap ruang di dalam jiwamu dan rohmu,
Bukalah pintu hatimu dengan harapan dan cinta
Meski mungkin imanmu lebih kecil dari biji sesawi;

Tidaklah keliru jika engkau bermimpi
Menemukan sayap-sayap pada tubuh dagingmu;
Bukanlah sebuah kemurtadan jika engkau berharap
Melayang-layang dalam kebebasan tak terperi di bumi;
Tak satu jiwa pun yang mutlak dalam dogmatikanya
Mencegahmu mencari kepastian hidup yang abadi;

Engkau memang tak diciptakan untuk menjadi liar
Atau menjadi hanya seperti keinginanmu dan hasratmu;
Engkau hanyalah ‘yang diciptakan’
Dalam rupa dan citra Sang Pengasih
Mungkin dalam penglihatan-NYA…
Engkau menjadi ganjil dan tak sempurna;
Bila engkau hanya mengandalkan sepasang sayap
Bertengger di punggungmu,
Engkau akan selalu menjadi santapan iblis
Manakala kedua sayap di punggungmu terkulai patah tak berdaya;

Tapi BAPA begitu mengasihimu…
Sehingga IA tahu di mana letak sepasang sayap itu seharusnya;
Ia merekatkannya pada hatimu,
Hingga engkau tahu kemana engkau harus pergi;
Saat keraguan, kekalutan, kepedihan, ketakberdayaan,
Bahkan saat tersenyum dan tertawa;
Ya…engkau akan mengepakan sayap-sayap hatimu
Pada Sang Jalan, Kebenaran dan Hidup.

Tidakkah engkau bersyukur pada-NYA
Bahwa ketika tubuh dan jiwamu tercabik-cabik
Oleh warna-warni kepongahan dunia…
Rohmu dengan segenap daya menghampiri-NYA,
Hingga IA tak membiarkan dirimu hancur berkeping
Atau menjadi serpih yang tergeletak tak bermakna?

Cinta-NYA yang deras dan lembut tak tertandingi cintamu,
Cinta-NYA menjadikan engkau yang tak bersayap, bahkan patah,
Selalu memiliki sayap-sayap baru;
Cinta-NYA memberikan lebih dari sekedar kedamaian kasat mata,
Dan engkau pun akan memahami hikmat dan rancangan-NYA
Bagi hidup dan kehidupanmu;

Karena IA, Yesus Kristus, pun tak bersayap
Saat berjalan-jalan menyusuri bumi,
Saat IA membagikan berkat surgawi,
Pada jiwa-jiwa yang haus dan lapar akan kebenaran Ilahi,
Bahkan ketika IA terlihat tak berdaya meregang nyawa,
Dipelukan tiang salib penderitaan;

Adalah lebih indah ketika sayap-sayap itu ada dalam hatimu
Bukan pada tubuh fanamu yang adalah debu.
Kepakkanlah sayap-sayap hatimu,
Terbanglah di langit-langit ciptaan-NYA,
Hinggaplah pada kaki dan tangan-NYA yang kokoh;
Engkau akan diraih-Nya,
Engkau akan ditangkap-Nya,
Dalam iman,
Dalam pengharapan
dan cinta.


Orientalfly
BDG, 15 April 2004

Tuesday, March 01, 2005

Re: 6 Feb 2005: Menjelang Paskah

Shalom,
mau nanggapi tulisan Andi (Re: 6 Feb 2005: Menjelang Paskah).

Andi:
well kalo Andi boleh ngasih tanggpan mungkin seperti ini bang,
kalo kita boleh membaca sama2 di kitab EZRA 3 mengenai sukacita ketika dasar bait suci diletakkan, sukacita yang terpancar sebegitu hebatnya sehingga penulis tdk dpt membedakan mana suara sorak sorai mana suara tangisan karena terharu
point is : gak semua bersukacita dengan cara yang sama
yang menjadi masalah ialah :
1. kita tidak tenggang rasa
2. kita mengganggu orang lain
3. orang lain membuat kita merasa tidak nyaman
menurut andi komisi kesenian dan majelis bidang sama sudah berusaha membuat format kebaktian alternatif yang menurut andi cukup berbeda [walaupun HKBP riau sudah jauh meniggalkan kita soal ini].

Dommy:
Sorry my bro (Andi), saya perlu luruskan, maksud saya bukan ‘bernyanyi sambil tepuk tangan’ (kalo yang ini di kita masih ‘uji coba’ dan ‘ngga jelas’), tapi bertepuk tangan (aplause) sebagai rasa apresiasi kita terhadap orang lain. Menurut saya ini kan hal sederhana yang manusiawi yang ngga perlu harus ada legalitasnya (sengaja dicari-cari ayatnya dalam Alkitab). Memang, mungkin karena kultur ketimuran kita (termasuk GKI) masih ‘miskin apresiasi’. Atau bisa jadi karena cara mengapresiasikan ‘masyarakat timur’ seperti kita ini berbeda dengan masyarakat barat.
Bersukacita (joy) memang ngga sama dengan senang (happy), ungkapan dari rasa sukacita itu bisa tertawa, tersenyum, bersorak bahkan menangis (karena terharu). Tapi kalo senang (happy)…cenderung pada hal-hal yang berbau celebrate. So…yang nyanyi dengan jingkrak-jingkrak itu belum tentu bersukacita (joy), bisa jadi hanya ikut-ikutan atau takut dibilang kuper (ngga nge-trend). Bahkan yang diam saja sering di cap ngga ‘bersukacita’, padahal belum tentu begitu. Saya pribadi kalau emang lagi ngga ‘joy’ ngapain jingkrak-jingkrak dan tepuk tangan, apa bedanya dengan munafik. Maaf, mungkin terkesan agak keras, tapi realitasnya seperti itu, kita menyanyikan lagu hanya karena kita ‘suka’ saja sama musiknya, kata-katanya, atau penyanyinya, atau takut dibilang ngga bersukacita, ngga salah, tapi kita ngga pernah (mau) belajar untuk bernyanyi & memaknai pujian itu dengan benar.
Komisi Kesenian & MJ sudah cukup baik dalam membuat format kebaktian, kita harus dukung hal ini. Saya lihat Komisi Kesenian cukup serius dalam mencapai misi ‘kebaktian yang berkualitas’. Aktifis MY lainnya, ayo kita bantu sama-sama, minimal dari segi usher (penyambut tamu) saat kebatian Minggu. Kuantitas & Kualitas usher sudah semestinya menjadi perhatian khusus kita semua. Kita sudah terjebak dengan moto: “biarkan saja, jemaat kan punya kebebasan mau pergi ke MY atau ngga”. Menurut saya ini pemikiran yang ‘berbahaya’. Kita memang tidak harus ‘mengikat erat-erat‘ jemaat untuk beribadah di MY, tapi bukankah gereja dipanggil untuk melayani? Tidakkah gereja disebut gereja karena sikap dan perilakunya terhadap sesama? Bukankah kita diminta untuk memberi yang terbaik bagi Tuhan melalui pelayanan kita, termasuk pada jemaat/sesama (domba-domba-Nya)? Kalau hotel, resto, caffe, atau bahkan tempat–tempat yang notabene sarat dengan kemesuman dan ilegal berusaha ‘memberi yang terbaik’ para customer/konsumen, mengapa gereja tidak lebih dari itu?
HKBP sudah meninggalkan kita? Belum tentu Ndi, kita jangan dulu membandingkan dengan gereja2 lain, ‘pamali’ kata orang Batak…eh…orang Sunda (wah udah SARA nih, he…he…). Kalau kita hanya merasa ‘iri’ saja dengan kemajuan gereja lain, tanpa mau berubah juga hasilnya tetap nol. Tapi kalau kita mau merendahkan hati, mengambil (adopsi) hal-hal positifnya, kenapa tidak? Jangan kita hanya bisa berlindung dibalik kalimat: “masing-masing tubuh Kristus (gereja) itu punya ciri khas sendiri”, tapi kita menutup mata dan hati kita pada kenyataan-kenyataan bahwa karena kelalaian kitalah, maka pelayanan kita tidak maksimal. Apa sih susahnya mengakui? Di Dewajun saja, saya mengakui kekurangan saya sebagai koordinator Dewajun, saya pun merasa belum maksimal dalam melayani jemaat Dewajun. Bahkan saya meminta teman-teman calon pengurus baru untuk mengoreksi setiap hal yang kurang selama kepemimpinan saya. Ini penting dan perlu. Bagaimana mungkin mereka tahu apa yang akan dikerjakan (dibenahi), kalau tak ada suatu evaluasi? Buat saya pribadi, saya jadi tahu hal-hal apa yang harus saya benahi dalam diri saya agar tak mengulangi kekeliruan-kekeliruan dikemudian hari. Artinya…saya masih harus terus dibina dan mem-bina-kan diri. Percuma juga kalau ada beribu pembinaan tapi ngga ada kemauan (apatis) & ngga antusias terhadap pembinaan tersebut.

Andi:
kemudian masalah lain muncul, kekurangan SDM, baik kualitas maupun kuantitas
jujur saja, berapa banyak yang mau berpartisipasi membantu acara2 kebaktian alternatif?

Dommy:
Well, ini masalah klasik tapi mengganggu. Soal kuantitas, bisa jadi karena kita melihat dan menilai orang-orang yang dikirim Tuhan untuk melayani dengan kacamata dan ukuran kita saja. Mungkin saja kita (para aktifis) sendiri yang jadi semacam batu sandungan buat orang-orang yang akan melayani di MY. Misalnya: Kita inginnya ada SDM yang siap pakai untuk main musik menurut ukuran kasat mata manusia. Ok, dari aspek (bakat) skill kita terkagum-kagum dan terbengong-bengong, tapi bagaimana dengan aspek spiritual dan hubungan dengan sesamanya? Bisa saja yang datang ke MY itu kelihatannya ngga ada yang bisa diandalkan, tapi biasanya hanya karena tak diberi kesempatan dan dibimbing, maka hal-hal positif dan potensinya tak tergali.
Jadi…ternyata kita tidak bisa hanya milih kuantitasnya saja atau kualitasnya saja, harus dua-duanya jalan. Kalo gitu, perlu kerja keras, perlu disiplin, perlu seleksi yang benar? Mungkin ya, tapi yang pasti, kita harus belajar ‘membaca dan mendengarkan kehendak Allah’. Kalo soal banyak, dari jaman Tuhan Yesus juga ngga banyak yang setia koq (tapi bukan jadi alasan kan?). Murid-muridNya, yang sudah 3 tahun mengalami pahit-manisnya melayani, kocar-kacir waktu Dia di tangkap. Pengecut? Pengkhianat? Mau yang enaknya saja? Kemana Yudas Iskariot sang bendahara, Petrus yang arogan, dan 5000 orang yang sudah Ia beri makan itu? Ya, tapi itu juga salah satu sisi negatif kemanusiawian kita, bukankah kita juga pernah/sering seperti itu saat ada moment-moment penting yang membutuhkan banyak SDM? Kalau ada acara beraroma celebrate (picnic, makan-makan, dan yang serba gratisan), kita akan berebut mendaftarkan diri, ngga mau ketinggalan. Ironisnya, giliran diminta untuk saling bantu atau diminta hadir dalam acara yang non-celebrate, masing-masing kita sudah buat daftar alasan yang kadang dibuat-buat. Mental seperti ini sudah selayaknya kita benahi. BTW, MJ Bid. Bina rencananya bakal mengadakan program pembinaan lagi supaya kualitas SDM kita ngga melempem dan bermental kristen-cosmo. Semestinya ‘para pelayan’ (dari MJ sampai aktivis), memiliki kebutuhan terhadap pembinaan (wajib), bukannya ogah-ogahan (sunah). Kita semua tahu, MJ pun punya banyak keterbatasan, “kita kan manusia” (hymne baru gereja?). Wajar saja kalo di komisi-komisi para pelayannya rada-rada linglung atau ngga nyambung. MJ ingin A, tapi masih banyak yang ngga mau ‘turun gunung’, cukup dengan laporan di rapat bidang, dan meminta komisi-komisi memahami situasi-kondisi yang ada, meski mungkin tidak jelas apa yang harus dipahami. Sementara komisi2 melakukan B, karena mereka lebih mengenal lapangan ketimbang MJ, tapi cenderung menghindari perdebatan. Misscomunication. Jadi…jalan sendiri-sendiri. Kalo jalan sih masih mending, yang parah kalo udah saling mengandalkan, atau yang satu lari terbirit-birit, yang lain jalan tertatih-tatih. Semoga aja ngga begitu ya, Ndi (atau udah begitu?). Kapan kita mengadakan semacam sarasehan antar aktifis dan MJ nih? Santai saja, pakai karpet atau tiker, ngga usah formal-formal, konsumsinya pisang atau singkong goreng (ngga perlu nasi jebur atau makanan beraroma babi) dan teh manis hangat. Mungkin kita bisa saling terbuka dan memahami. Menurut saya ini perlu, apalagi menurut isu, tahun ini kemungkinan retreat pelayan ditiadakan karena harus memilih prioritas…pembangunan ruang D. Padahal, SDM-pun perlu kesamaan visi dan rasa kebersamaan dalam pelayanannya. MJ Bidang Bina punya tugas cukup berat tahun ini, bahkan mungkin dilematis seperti pemerintah yang bakal menaikkan BBM sebelum bulan April. Tapi…kita lihat saja perkembangan berikutnya.

Andi:
DOA yang menjadi nafas kehidupan orang kristen saja menurut Andi minimalis
apalagi pekerjaan2 kasar, seperti peralatan, perlengakapan, dekor, SOUND SYSTEM
akhirnya yang kerja itu2 lagi,
dari segi kualitas, kita bisa kritisi dari HPDJC [hubungan pribadi dengan Jesus Christ], ada beberapa orang yang kemarin sudah Kak Sortha tegur bahwa kebaktian itu bukan talent SHOW [AFI,Indonesian IDOL,KDI]

Dommy:
Minimalis? Tidak juga. Berdasarkan pengalaman saya hadir di persekutuan-persekutuan doa, saya akhirnya bisa memahami kenapa Tuhan Yesus bilang “dimana dua tiga orang berkumpul…”. Kenapa Dia tidak bilang ‘seratus atau lima ribu orang berkumpul’? Doa yang memiliki kuasa bukan karena kuantitas pendoanya tapi kualitas (spiritualitas/Hub pribadi dng Allah, ketulusan, kejujuran) pendoanya. Allah sering mengajarkan hal-hal yang terkesan paradoks, termasuk tentang berdoa dalam PL & PB. Maksud-Nya adalah agar kita tidak bergantung pada indah dan banyaknya kata-kata dalam doa, kuantitas orang yang berdoa, tapi pada dimana dan bagaimana hati kita saat kita berdoa. Doa bukan jadi semacam ‘mantera’ juga. Meskipun begitu, membangun sebuah kebersamaan lewat persekutuan doa tetap sangat diperlukan (atau wajib hukumnya?). Tapi persekutuan doa pun bukan sekedar formalitas yang akhirnya jadi sebuah rutinitas dan lambat laun kehilangan maknanya, karena ngga ada berbagi hidupnya, garing, ngga ada ikatan batinnya, cuek beybe. Kebanyakan dari kita berdalih: “Kan kita bisa berdoa di rumah juga”, atau “saya tidak punya waktu untuk PD (Persekutuan Doa)”, dst..dst. Kalo hanya satu orang sih yang seperti ini masih mending (bukan ngga ngaruh), tapi coba kalo ratusan, ribuan jemaat, bahkan aktifisnya sendiri seperti ini, apa jadinya? Tapi kita mungkin lebih terlatih dengan membuat alasan, bukan begitu? Pernahkah kita berpikir kalo Tuhan Yesus yang mendengar dalih-dalih kita seperti itu, menjawab doa-doa kita dengan dalih yang sama? Apa jadinya kita? Kesadaran dari dalam diri kita-lah yang lebih penting untuk hadir di dalam atau membentuk sebuah persekutuan doa. Ngga bagus juga kalo kita terpaksa. Tapi kita harus terus saling mengingatkan, menghimbau dan mengajak, ngga pasif. Logikanya…’bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh’. Iblis juga punya strategi devide et impera, dan itu sudah dimiliki sejak ia menggoda Hawa yang sedang sendirian.
Wah, sebuah kemajuan nih, Kak Sortha udah negur beberapa orang. Betul, kebaktian itu bukan talent show. Yang ngerasa punya suara bagus, jago main musik, belum tentu bagus juga pemahamannya pada makna puji-pujian. Suara bagus, main musik jago, tapi kalo HPDJC-nya setengah-setengah, ya jadinya talent show toq, pesan-Nya ngga nyampe (ikutan KDI aja ).

Andi:
mengenai membaca buku, budaya yang berkembang, seperti yang bang dom udach singgung sebelumnya adalah budaya instant, kita ingin semuanya bekerja dengan cepat, perubahan radikal, revolusi, tapi jauh sekali dari kenyataan bang. buku itu bacanya lama[sebenarnya film lebih praktis] dan karena itu enggak sesuai dengan budaya instan,ini bukan berarti andi melarang baca buku yach, tapi merubah kebudayan gak segampang membuat pogram
mungkin kita sebagai manusia boleh merancang program
misalnya bedah buku dan bedah film, tapi ternyata program kita 'menara gading'
dan yang akhirnya yang datang adalah orang2 yang itu2 saja
bahkan gak semua majelis suka baca kan?
dan gak semua yang suka baca bisa datang untuk acara bedah buku.
menurut andi sendiri kita harus mencoba lagi untuk pertama berdoa buat program2 kita
dan mencari bagaimana caranya untuk membuat orang2 atau paling tidak aktifis gereja kita mulai suka membaca buku, dan nonton film bermutu
[bukanya ngeributin ariel peterpan atau bjah yang mau nika, kekekkeke]
JCLU semuach

Dommy:
Sss…t yang mahasiswa juga ngga semua suka baca. Lucu juga sih, katanya mahasiswa, tapi ngga suka baca. Ini hebatnya mahasiswa Indonesia. Salut abis. Eh…tapi banyak koq yang suka baca. Saya punya sedikit tips buat yang suka buat alasan ‘ngga punya waktu’ untuk baca buku. Coba sambil baca di angkot (buat para mahasiswa/I nih), di WC (sambil setor, biasanya keluar ide-ide bagus, dari pada ngelantur), di saat kita ngelamun, disaat santai. Dari pada nge-gosip yang kagak ada juntrungannya dan jadi Kristen-cosmo.
Memang benar yang dibilang Andi, bahwa merubah kebudayaan tidak segampang buat program, butuh waktu, kesabaran dan perubahan pola pikir. Disitulah tantangannya, kita mulai dari nol, dan untuk memulai ini memang butuh perjuangan (faith, hope & love). Reaksi yang muncul biasanya seperti kondisi Nuh saat pertama kali buat bahtera, atau seperti Kol. Sanders yang buat KFC, seperti Thomas Alva Edison, atau bahkan seperti Nehemia yang ‘diganggu’ Sanbalat dan Tobia saat mengkoordinir pembangunan kota di Yehuda. Ngga masuk itungan, banyak gagalnya, sedikit peminatnya, dilecehkan, ditertawakan, bahkan disabotase. It’s OK, itu bukan alasan kita untuk berhenti. Apakah sebuah program disebut efektif hanya kalo jumlah orang yang hadirnya tumpah ruah? Belum tentu. Kuantitas memang bisa jadi alat ukur, tapi tidak mutlak hanya tergantung pada itu. Kita cenderung melihat keberhasilan sebuah acara/program dari sisi kuantitasnya saja, tanpa peduli dengan kualitasnya. Dua-duanya perlu. Saya pernah bilang waktu kita KTB terakhir, bahwa kecenderungan kita adalah ingin cepat-cepat melihat hasil dari program yang sudah dibuat. Astaga! Memangnya kita sedang buat kue kering yang tinggal cetak, masukkan oven, tunggu beberapa menit, lalu…matang?! Atau kita pikir manusia itu sama dengan coffemix yang tinggal seduh saja?!
Saya kasih contoh saja, kalo kita punya program ingin beli tas, artinya tas itu belum ada pada kita kan? Kita harus berusaha dan buat strategi bagaimana cara memperolehnya/membelinya (entah nabung, atau minta dibelikan ortu/pacar/suami/istri/kredit). Kalo tas itu harus sudah ada di depan mata kita (dimiliki) dulu, lalu ngapain juga kita punya program beli tas itu? Bukankah ini aneh? Benar bahwa kita perlu alat ukur (hasil yang dicapai) untuk mengevaluasi program tersebut, tapi kadang kita lupa kalau yang kita hadapi adalah jiwa-jiwa manusia, bukan buah mangga atau alpukat yang bisa kita percepat matangnya dengan cara dikarbit. Kita juga lupa, bahwa SDM kita mungkin seperti dua batang pohon, yang di cangkok/stek atau yang di tanam dari biji. Jelas, kekuatan akarnya beda. Meski yang dicangkok lebih cepat berbuah, tapi akarnya tidak sekuat yang ditanam dari biji. SDM kita perlu akar yang kuat, ini yang mungkin belum tersentuh oleh kita. Atau mungkin kita terlalu ingin mencapai hasil, kejar target. Ada juga yang berpikir kalau mengevaluasi itu bertujuan untuk mencari program mana yang harus dihapus dan tidak. Menurut saya ini ngga bagus, pilihan ini harus ditempatkan sebagai pilihan (solusi) paling akhir. Mungkin 5-10 tahun ke depan gereja kita akan tetap ada dan penuh, luber….tapi, pernahkah kita bertanya, benih-benih apa yang sudah kita tabur/tanam saat ini? Pernahkah kita bayangkan: “Gereja seperti apa yang ada 5-10 tahun ke depan nanti?”

Kita bersyukur pada Tuhan bahwa pembangunan ruang D GKI MY sudah ada izinnya & akan segera diletakkan batu pertama tgl. 6 Maret 2005 ini, . O ya, bagaimana dengan efek dari pembangunan Ruang D? Gimana dengan warung Ceu Mumu (jangan sampai timbul efek domino yang mengarah ke SARA)? Gimana dengan aktifitas Donor Darah KP? Gimana dengan Persekutuan Dewasa Junior dan aktifitas Komisi Remaja? Kita mau jalanin tahun pelayanan yang baru, seperti kata Andi, mari kita berdoa agar dari gedung yang baru ini, banyak dihasilkan anak-anak Tuhan yang lebih berkualitas dan memiliki akar yang kuat, selain bertumbuh dan berbuah. Amin.

NB:
Ngomong-ngomong, kapan ya PGI mengeluarkan sebuah buku, semacam pedoman untuk kita (umat Kristen) yang sering jadi bulan-bulanan teologis dari saudara sepupu kita (umat Islam) yang hobi ‘menyerang’ kekristenan? Atau ada ngga orang GKI yang buat buku untuk ‘menjawab’ dan menjelaskan hal-hal yang sering dimanfaatkan mereka (sebagian umat Islam) untuk menggoyahkan iman kita? Atau GKI MY punya program khusus untuk hal ini? Terakhir, saya lihat buku “The Dark Bible” di Gramedia diletakan di antara buku2 Kristen, yang isinya ngga jauh beda dengan buku “The Choice”-nya Ahmed Dedat (sang Kristolog ngawur yang sudah ‘keok’ di luar negeri tapi dipuja-puja kaum fanatisme Islam di Indonesia). Kacaunya, begitu saya lihat penerbitnya: “Imanuel Press”. Jadi ‘mereka’ begitu berani dan licik, dengan menggunakan istilah ‘imanuel’ untuk menjebak kita. Harusnya PGI memberi semacam warning bagi gereja-gereja (tapi apa PGI tahu ya?).


Intermezo:
Ndi, kalo boleh tau, Bjah & Ariel kapan nikahnya dan sama siapa? Mereka ini jemaat / aktifis MY? Simpatisan atau anggota?....Oops!


“Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa”
(Amsal 14:34)


God bless our homeland forever,
Dommy Waas

Thursday, February 10, 2005

Menjelang Paskah

Menjelang Paskah
Shallom,

Menarik bahwa pada hari Minggu, 6 Peb 2005, kemarin (saya & Via, istri saya, mengikuti kebaktian pukul 7.00 WIB di GKI MY) Pdt. (Em.) dari GKI Layur memberikan hal (point) yang selayaknya kita renungkan dan terapkan. Dua di antaranya adalah:
1. Respons/apresiasi terhadap apa yang telah diberikan oleh para pengisi lagu/pujian dalam kebaktian.
2. Dia mengutip dan menyarankan gereja (aktivis, pendeta dan MJ khususnya) untuk membaca buku: The Purpose Driven Life karya Rick Warren.

Point 1.
Saya pribadi juga sejujurnya merasa aneh terhadap respons kita terhadap apa yang telah diberikan oleh para pengisi lagu/pujian dalam kebaktian Minggu. Kenapa kita begitu ‘dingin’? Apa sih alasannya? Apa benar bahwa kekhidmatan kebaktian akan terganggu hanya karena sebuah tepuk tangan (yang adalah ‘alat musik’ pertama yang digunakan Tuhan) untuk merespons – setidaknya memberi motivasi – pada mereka yang telah memberikan persembahan berupa puji-pujian/lagu/nyanyian? Apakah ada kekeliruan dalam memahami Firman Tuhan? Bisa saja kita terlalu sempit memaknai ayat ini: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kol 3:23). Benar, bahwa segala sesuatu harus kita lakukan hanya untuk kemuliaan Tuhan. Tetapi tidak berarti kita mematikan/membunuh aspek-aspek manusiawi sedemikian rupa hingga kita lupa, bahwa Allah pun bahkan memberikan apresiasi kepada ciptaan-Nya dalam Kejadian 1, pada saat manusia diciptakan Allah melihat bahwa semuanya itu: “sungguh amat baik”. Tuhan Yesus bahkan tahu dan ‘merasakan’ sisi kemanusiawian kita dalam perjalanan-Nya di bumi.
Kalau kita bicara masalah kebiasaan/budaya/tradisi, apa iya kita harus mempertahankan sesuatu yang kita tahu itu bisa diubah berdasarkan pembaharuan akal budi kita?
Segala kemuliaan, pujian dan hormat memang selayaknya kita berikan hanya bagi Tuhan, tetapi perlu kita sadari bersama bahwa Tuhan tak pernah menghilangkan sisi kemanusiawian kita yang adalah citra-Nya. Mungkin dengan memberikan tepuk tangan, kita semua (termasuk jemaat) sebenarnya telah ikut ambil bagian dalam ‘memotivasi’ tercapainya peningkatan kualitas kebaktian, meski ini hanya sebagian kecil saja. Mungkin ini salah satu faktor (selain keberadaan usher/penyambut tamu yang setengah-setengah) yang membuat orang malas untuk ambil bagian pelayanan di kebaktian Minggu (dan pelayanan lainnya), kesannya dingin dan apatis. Siapa tahu?

Point 2.
Yang ini cukup mengejutkan saya, karena kebetulan saya sedang membaca buku tersebut. Wah, seandainya gereja (jemaat, aktivis, MJ) menjadikan kegiatan ‘membaca buku’ sebagai sebuah budaya, mungkin bisa mengurangi terjadinya benturan-benturan pemahaman dan pemaknaan terhadap aktivitas di gereja (pelayanan), setidaknya tiap-tiap pribadi memiliki tujuan yang jelas dalam melakukan segala sesuatu (termasuk pelayanan di gereja). The Purpose Driven Life (versi Indonesia: Kehidupan yang digerakkan oleh tujuan), lebih diarahkan terhadap setiap pribadi untuk memiliki tujuan dalam hidupnya, dalam buku tersebut (secara garis besar) disebutkan 5 tujuan kita diciptakan oleh Allah:
1. Anda direncanakan bagi kesenangan Allah
2. Anda dibentuk untuk keluarga Allah.
3. Anda diciptakan untuk menjadi serupa dengan Kristus.
4. Anda dibentuk untuk melayani Allah.
5. Anda diciptakan untuk sebuah misi.
Mungkin kita bisa terus mempertajam Visi & Misi kita (pribadi maupun gereja), terutama menghadapi pergantian pengurus dan pembuatan program untuk tahun pelayanan yang baru (2005-2006). Bukankah Tuhan bisa memakai segala cara, diantaranya melalui buku yang mengandung pengetahuan (knowledge)?
Ada 2 buah buku lain yang mungkin bisa jadi semacam ‘wajib dibaca’ oleh kita semua (terutama para aktivis/generasi muda, MJ dan Pendeta):
1. The Purpose Driven Church (Rick Warren)
2. The Purpose Driven Youth Ministry (Doug Fields)
Versi Bahasa Indonesia dari 2 buku di atas pun sudah ada (penerbitnya Gandum Mas).
Kalau boleh saya ‘menafsirkan’ kata-kata Tuhan Yesus di kayu salib: “….karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”/ “for they know not what they do” (RSV 1947,) mungkin kita juga tidak tahu (kurang/tidak memiliki pengetahuan yang memadai) dalam menjalani apa yang kita sebut pelayanan dan melayani. Jangan-jangan, kita bukannya sedang melayani Tuhan tapi yang sedang kita lakukan adalah: mengkhianati Dia, menghakimi Dia, menggiring Dia ke bukit Golgota, membuat palang salib, memaku tangan dan kaki-Nya, meludahi dan mencemooh Dia, memberi mahkota duri pada-Nya, memberi minum air anggur asam, membuang undi jubah-Nya, menusuk lambung-Nya, (bahkan tembus sampai jantung),…menyalibkan Tuhan. Oops..! (koq saya sendiri jadi merinding ya?!)


GBU,
Dommy Waas


Saturday, February 05, 2005

Bencana Tsunami: Why?

Bencana Tsunami: Tuhan, manusia, iblis, mujizat, kehendak bebas, dosa dan penderitaan.


Akhirnya saya punya kesempatan share melalui tulisan ini untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang cukup tajam dan bagus terhadap situasi bencana yang terjadi dalam track record 100 hari pemerintahan SBY-MJK. Saya memberi judul demikian karena wacana yang paling sering muncul dan terkait manakala bencana terjadi adalah 7 hal tersebut. Demikian mendominasinya sehingga hal-hal yang positif pun harus dikaburkan oleh pemaknaan yang keliru (atau negatif?) terhadap sebuah peristiwa pahit dan tidak mengenakkan seperti bencana alam tsunami.

Ya, mungkin sebagian besar bangsa Indonesia, yang mayoritas penduduknya Muslim ini, merasa kaget, shock, bingung dan bertanya-tanya dalam hati: "Dimanakah Tuhan dengan keadilan dan kekuasaan-Nya? Mengapa bencana ini terjadi di Aceh, bukan di Jakarta? Apa dosa orang-orang yang terkena bencana? Mengapa Tuhan tak menolong anak-anak kecil dan mereka yang ‘tak berdosa’?". Dan berbagai pertanyaan lain yang menggumpal dalam benak kita, cukup sulit untuk kita jawab dan pahami.


Konsep tentang Allah dan Hak Prerogatif Allah

Saya pribadi maklum jika tulisan-tulisan dalam koran (seperti Pikiran Rakyat dan Republika) dan khotbah-khotbah para tokoh Islam cenderung menganggap bencana Tsunami ini adalah akibat dari dosa manusia semata tanpa melihat aspek lainnya. Terkesan cari gampangnya saja. Karena Tuhan dalam konsep mereka (umat Islam umumnya) adalah Zat (bukan pribadi) yang saking Maha-nya, memiliki jarak dengan ciptaan-Nya, diantaranya manusia. Tuhan tak tersentuh dan terlalu suci untuk datang ke dunia yang kotor ini. Mereka (umat Islam) umumnya, kurang bisa menerima gagasan bahwa: Tuhan itu ‘dekat’ dengan ciptaan-Nya, meski mereka meminta dan memohon hal itu dalam doa-doa mereka. Bahkan mereka umumnya menolak bahasa metafor bahwa Tuhan bertangan, berkaki, bertelinga seperti manusia. Karena secara logika memang kita belum pernah melihat Tuhan (kalo dalam Alkitab, Musa hanya melihat ‘punggung’-Nya saja – ini pun bahasa metafor).

Dalam pembukaan ayat-ayat Al-quran, kita sering mendengar, bahwa Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang, ini menjadi konsep mereka bahwa seolah ‘tidak mungkin’ Allah berbuat sesuatu yang jauh dari mengasihi dan menyayangi. Mereka berpikir, rasanya tidak mungkin Allah itu ‘tidak adil’. Masalahnya adalah: mengasihi, menyayangi dan adil ini menurut standard, cara dan pemahaman siapa? Allah atau manusia?


Bagaimana dalam kekristenan? Sikap Allah terhadap manusia sangat variatif, tapi tidak berarti tidak konsisten. Allah yang serba Maha itu bisa mengasihi, menyayangi, berdialog, marah, sabar, sedih, tertawa dan ‘diam’ di antara kita, tapi Ia sama sekali bukan Superman. Dan Allah punya rancangan, cara, serta waktu yang tepat menurut-Nya dalam tindakan-tindakan-Nya terhadap dunia (manusia khususnya). Segala sesuatunya telah dirancang sedemikian rupa, sampai hal yang paling detil sekalipun, dan semua rancangan-Nya adalah rancangan damai sejahtera, bukan kecelakaan.

Namun, dalam kekristenan pun ada klaim-klaim yang menyempitkan makna sebuah bencana atau penderitaan dengan menghubungkannya langsung hanya dengan dosa. Hal ini terlalu riskan dan gegabah. Dalam Alkitab (PL & PB), Allah telah ‘mendidik’ kita mengenai dosa, hukuman dan penderitaan. Banyak contoh yang bisa kita ambil sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Coba kita simak baik-baik kisah Kain, Abraham, Ishak, Yakub, dan Ayub. Ada banyak saudara-saudara kita yang Kristen terlalu sembrono menuding para korban bencana atau iblis atau Allah sebagai tokoh dibalik layar (dalang) peristiwa bencana Tsunami, yang harus bertanggungjawab. Dengan mencomot ayat-ayat Alkitab. Ditambah keingintahuan kita tentang masa depan dan sensasi (nubuat, ramalan, mujizat-mujizat, dsb.). Kita dibutakan oleh kenyataan bahwa antara nubuat dan ramalan/dugaan/prediksi memiliki nilai yang berjarak. Tidak sama, tidak sembarangan, dan tidak asal keluar dari mulut. Repotnya, disadari atau tidak, kita larut dalam teater Akhir Zaman yang naik daun belakangan ini. Kita begitu rajin mengutak-atik tanda-tanda, simbol-simbol dalam kitab Wahyu, seolah kita ingin cepat-cepat terjadi Akhir Zaman, agar semua penderitaan yang ada di dunia cepat berakhir. Seolah kitalah yang layak di surga, orang lain tidak. Kita ke-GR-an. Padahal soal masuk surga atau neraka itu adalah hak prerogatif Allah, dan Yesus pun berkata dalam Matius 28:18: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi".Kita dibuat sibuk dengan nubuat-nubuat (asli atau palsu apakah kita peduli?) yang di tebar oleh orang-orang asing untuk Indonesia (lihat saja, betapa lakuknya buku-buku tentang nubuat, peperangan rohani dan akhir zaman). Sebegitu bobrokkah bangsa ini, hingga Tuhan tak lagi mau memakai salah satu anak-Nya dari bangsa ini untuk bernubuat?! Kita menjadi terjebak dan menghakimi sesama kita dengan hitam-putih, dosa-tidak dosa, kami-mereka, surga-neraka, terang-gelap, Tuhan – iblis, dsb. Amat disayangkan bahwa di dalam kekristenan sendiri muncul paradigma-paradigma dan konsep-konsep yang dangkal, asal jadi dan cari sensasi. Ya, inilah fakta yang harus kita hadapi, ‘musuh dalam selimut’. Dan ini lebih berbahaya manakala kita tidak peka, bahkan hanya berpegang teguh pada satu ayat andalan yaitu: "Jangan menghakimi!", padahal begitu banyak hal yang semestinya kita (gereja) ‘hakimi’. Hanya karena label Kristen pada si pelaku (Pdt./Ev., ber-Alkitab, punya kaset/CD/VCD/DVD rohani yang lengkap, sering melayani di KKR-KKR atau konser-konser, hafal ayat-ayat Alkitab, memiliki jemaat sekian ribu orang), lalu kita lalai ‘menghakimi’, bahkan ketika buahnya (yang negatif) bisa kita lihat sekalipun.

Nah, dari konsep Allah dan hak prerogatif Allah inilah, kita bisa belajar menyadari, di mana kita tengah berdiri melihat dan memahami segala sesuatu yang terjadi saat ini.

O ya, mungkin ini bisa mempermudah kita memahami tindakan Allah. Coba kita baca Keluaran 33:18-23 berikut ini:


18 Tetapi jawabnya: "Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku."

19 Tetapi firman-Nya: "Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani."

20 Lagi firman-Nya: "Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup."

21 Berfirmanlah TUHAN: "Ada suatu tempat dekat-Ku, di mana engkau dapat berdiri di atas gunung batu;

22 apabila kemuliaan-Ku lewat, maka Aku akan menempatkan engkau dalam lekuk gunung itu dan Aku akan menudungi engkau dengan tangan-Ku, sampai Aku berjalan lewat.

23 Kemudian Aku akan menarik tangan-Ku dan engkau akan melihat belakang-Ku, tetapi wajah-Ku tidak akan kelihatan."


Apakah ayat ini berarti Musa ingin melihat Allah? Ternyata tidak. Yang diinginkan Musa adalah ‘melihat kemuliaan Allah’, sehingga ia dapat memahami rencana Allah.


Apakah Allah (ayat 19) berfirman, "Aku akan melakukan apa pun yang Aku inginkan tanpa melihat apa yang adil?" Tidak, Ia tidak berfirman demikian. Tetapi Ia berfirman, "Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia, dan bukan kepada orang yang menurut pendapatmu harus Kuberi kasih karunia. Aku akan berbelas kasihan kepada siapa yang Kuinginkan, dan bukan kepada siapa yang menurut pendapatmu harus kuberi belas kasihan."


Maksudnya adalah bahwa seringkali penilaian kita tentang siapa yang saleh dan siapa yang berdosa itu akan jauh dari ukuran kita. Nilai-nilai dari kerajaan sorga lebih sering paradoks dengan nilai-nilai kerajaan dunia. Mengapa? Karena kita (manusia) tak pernah akan bisa selangkah pun lebih tahu maksud dan rencana Allah, Raja segala raja, penguasa alam semesta. "Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya." (Luk 6:40)


Mengapa bencana Tsunami tidak terjadi di Jakarta?

Rasanya pertanyaan ini cukup menggelitik keimanan kita. Berbagai jawaban terlontar tapi justru menghasilkan pertanyaan berikutnya. Dan kita dihadapkan pada kenyataan bahwa, umat manusia belum mampu memahami pikiran-pikiran Allah, seperti seorang anak TK yang tak mampu memahami rumus-rumus Fisika yang dibeberkan oleh seorang dosen. Tapi sesungguhnya, kita sedang dituntun dan ditempa Allah untuk tidak terus menjadi ‘anak TK’.

Sebenarnya pertanyaan tersebut telah dijawab oleh Bang Rendy (pernah jadi pembicara dalam acara Bedah Buku di GKI MY) juga beberapa rekan lainnya. Kalau saya boleh punya sebuah pemikiran begini: Kalau Dia, Allah yang Maha Kuasa itu, adalah Maha Kuasa, maka Ia tak hanya bekuasa untuk bertindak sebatas pemahaman manusia, tetapi Ia berkuasa untuk bertindak lebih jauh dari apa yang mampu dipahami oleh manusia. Kita punya kehendak bebas, tapi itu pun tak akan membatasi, memagari bahkan membatalkan rancangan-rancangan Allah. Jadi Allah ‘mengizinkan’ bencana itu terjadi. Lalu apa alasan Allah membuat bencana itu di Aceh (dan beberapa tempat lainnya)? Untuk saat ini kita tak bisa menjawab dengan pasti, suatu saat, kita akan tahu tujuan-tujuan-Nya. Tapi tidak untuk saat ini.

Dalam Ayub 38-40, kita mungkin bisa menyimpulkan bahwa Allah berfirman kepada Ayub seperti ini: "Aku mengendalikan dunia yang luas dan rumit ini, dan engkau tidak mungkin dapat menangkap alasan yang demikian banyak mengapa Aku melakukan apa yang Aku lakukan."


Persoalan serupa ini sebenarnya patut jadi pelajaran berharga untuk umat manusia. Penderitaan, mungkin bukan kutukan, melainkan berkat. Berkat? Yang benar saja? Ya, berkat…kenapa tidak?

Masalah bencana itu terjadi di Aceh, bukan di Jakarta, itu urusan lain, ini bukan jangkauan kita saat ini. Tapi bagaimana kita menyikapi dan mengambil hikmah (belajar) dari bencana tersebut adalah jelas urusan kita. Misalnya: kita mungkin bisa membentuk tim khusus penanggulangan bencana nasional yang profesional. Kalaupun bencana itu terjadi di Jakarta, apakah tidak akan muncul pertanyaan: "Mengapa?" dari kita?


Sedikit kutipan dari "The Jesus I Never Knew", Philip Yancey, hal 200-201:

Pada masa Yesus, orang-orang menganggap tragedi mengenai orang yang patut menerimanya. (Jaman sekarang, kita cenderung menyalahkan Allah, baik untuk bencana alam dan untuk bencana kecil-kecilan). "Tidak ada kematian tanpa (sebab) dosa, dan tidak ada penderitaan tanpa (sebab) kejahatan," begitulah pengajaran orang Farisi, yang melihat tangan penghukuman Allah dalam bencana alam, kecacatan, sejak lahir, dan penyakit jangka panjang seperti kebutaan dan kelumpuhan. Yohanes 9, disinilah "orang yang buta sejak lahirnya" memasuki adegan. Dengan pemikiran tradisi Yahudi, murid-murid Yesus berdebat apa yang menyebabkan cacat sejak lahir seperti itu. Apakah ia berdosa sejak dalam kandungan? Atau ia menerima akibat dosa dari orangtuanya?

Yesus menanggapi dengan mengalihkan perhatian pada bagaimana cara Allah memandang orang yang sakit dan cacat.Ia membantah bahwakebutaan orang itu datang dari dosa,seperti Ia menyangkal pendapat umum bahwa tragedi terjadi pada orang-orang yang patut menerimanya (Lukas 13:1-5). Yesus ingin orang sakit tahu bahwa mereka terutama dikasihi Allah, bukan dikutukNya. Setiap mujizat penyembuhanNya, sebenarnya, menyangkal tradisi rabinis "Kamu pantas menerimanya."

Para murid memandang ke belakang, untuk mencari tahu "mengapa?" Yesus mengarahkan perhatian mereka ke depan, menjawab pertanyaan yang sama sekali berbeda: "untuk apa?" JawabanNya: "Bukan dia dan bukan juga orangtuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia."


Bisa jadi kita berharap Tuhan membuat semacam mujizat dalam situasi semacam bencana tsunami di Aceh. Mereka menderita. Tapi mujizat adalah mujizat, bukan pengalaman biasa sehari-hari. Dalam Injil,Yesus selalu menolak permintaan demonstrasi untuk membuat orang banyak tercengang dan orang penting terkesan. Yesus sejak awal tahu bahwa kegairanan yang diciptakan oelh mujizat tidak segera berubah menjadi iman yang mengubah kehidupan. Prinsip iman: walaupun iman bisa menghasilkan mujizat, mujizat tidak selalu berarti bisa menghasilkan iman. Iman tidak berasal dari mujizat, tapi mujizat dari iman. (Fyodor Dotoevsky).




Dosa rakyat Aceh dan Tuhan orang Kristen

Kalau boleh saya bertanya: "Orang Kristen yang mana?" Jujur saja, saya sempat tersenyum geli, membaca bahwa bencana tsunami itu akibat dosa rakyat Aceh yang menimbulkan marahnya Tuhan orang Kristen. Lucu…seperti anak-anak. Maaf, saya bilang seperti itu karena fakta bahwa dalam kekristenan pun tak luput dari paradigma-paradigma sempit dan ini harus berani kita akui sekaligus kita benahi, sebelum pada akhirnya terlanjur menjadi ‘kebenaran baru’. Menarik untuk kita renungkan contoh berikut mengenai sebab-akibat:

Si A meninggal karena sakit jantung,

Si B meninggal karena tertabrak truk,

Si C meninggal karena bencana alam,

Mereka semua meninggal dengan penyebab yang berbeda-beda.

Artinya: kematian, yang secara spiritual dipercaya juga menjadi bagian rancangan Allah, tak selalu disebabkan hanya karena sakit jantung.

Sederhananya kita harus ingat silogisme:

"A" dapat menyebabkan "B" tetapi kita tidak dapat mengatakan bahwa "B" selalu disebabkan oleh "A".


Lalu bagaimana dengan dosa? Kemungkinan bencana tsunami menimpa Aceh karena dosa, mungkin saja, tetapi tidak berarti mutlak menjadi penyebab satu-satunya. Seperti kutipan dari buku "The Jesus I Never Knew" di atas. Banyak faktor (selain dosa) yang bisa menjadi alasan Tuhan untuk peristiwa semacam ini. Dan kita belum bisa memahaminya saat ini. Bersabarlah…lakukan apa yang menjadi bagian kita, dan biarkan Tuhan melakukan bagian-Nya, karena "segala sesuatu ada waktunya".


Buat beberapa rekan yang masih bertanya-tanya tentang hal-hal semacam ini, saya merekomendasikan untuk membaca, menyimak dan merenungkannya:

1. Alkitab: kisah Kain, Abraham, Musa, Ayub, Yunus, Manasye (putra raja Israel, Hizkia), dan tentu saja Yesus Kristus.

2. Buku: "The Jesus I Never Knew", Philip Yancey.

3. Buku: "Dissapointment with God", Philip Yancey.

4. Buku: "Where It God When It Hurts?", Philip Yancey.

5. Buku: "If God is good, why is the world so bad?", Benjamin Blech.

6. Buku: "Belief or Nonbelief? A Confrontation", Umberto Eco – Cardinal Cario Maria Martini.


Penderitaan adalah pengalaman yg mengandung pengajaran dari pihak Allah untuk membawa seseorang kembali pada kenyataan di mana mereka telah kehilangan hubungan ketika keadaan menjadi terlampau baik.


Ada sebuah cerita yang mengisahkan tentang pertemuan antara Chofetz Chayim, orang bijak abad keduapuluh yang terkenal dengan mantan muridnya.

"Apa kabar?" tanya rabi itu.

"Buruk," jawab murid itu.

"Jangan katakan ‘buruk’" tegur Chofetz Chayim, "katakan saja ‘pahit..’"

Murid itu menjadi bingun, tidak memahami apa perbedaannya. "Tetapi rabi, arti keduanya sama saja."

"Tidak, anakku, sama sekali tidak," rabi besar itu menjawab. "Buruk itu jauh dari sama dengan pahit. Suatu obat mungkin pahit, namun obat itu tidak pernah buruk!"


Rasa pahit dari penderitaan, yang adalah obat-Nya Allah, mungkin harus kita tanggung hari ini, tetapi akan memberikan pengaruh bagi kesembuhan kita esok hari.


O ya, saya menulis ini (ditambah beberapa kutipan) karena saya pun pernah mengalami kesedihan, penderitaan, rasa ditolak, kehilangan, dan muncul pertanyaan-pertanyaan: "mengapa?", tetapi akhirnya seiring waktu, pertanyaan-pertanyaan itu berubah bukan lagi "mengapa?", melainkan "untuk apa?". Semoga uraian saya menjadi berkat, menguatkan, dan membangun iman kita semua. Tuhan memberkati kita semua. Amin.


"Kehidupan hanya dapat dipahami dengan menoleh ke belakang, tetapi harus dijalani dengan maju ke depan." (Soren Kierkegaard).


GBU,

Dommy Waas

Gereja yang melayani di bumi: Sebuah Wacana (2)

Nah, tidakkah kita memiliki keprihatinan terhadap kepemimpinan kristiani? Hari Minggu, 3 Oktober 2004 yang lalu, saya sempat sharing dengan beberapa orang tentang pelayanan di gereja (GKI MY). Selain itu, saya berulang-ulang membaca tulisan di kolom depan Warta Jemaat (termasuk khotbah Pdt. Patty) & tulisan Pdt. Budiono di kolom pembinaan. Yang saya soroti adalah pada kalimat akhir kedua tulisan tersebut.


Ada beberapa pertanyaan yang secara spontan muncul (baik dari orang yang saya temui maupun dari saya pribadi):


Seorang ibu bertanya (kalau tidak boleh kita sebut ‘mengeluh’): "Kenapa orang sebanyak ini sulit untuk terlibat dalam pelayanan?" Mungkin maksudnya ibu tersebut adalah tidak adanya spontanitas atau kesadaran atau ketergerakan hati (atau lebih tepatnya ‘kepemimpinan’) untuk serta merta terlibat dalam pelayanan (di gereja khususnya).


Yup! Kita memang mustahil menyenangkan semua orang, tetapi itu bukan alasan bagi kita untuk berhenti memberikan semacam inspiring, building & delivering terhadap sesama kita (jemaat secara internal & masyarakat secara eksternal)?


Apa sebenarnya yang kini dipahami oleh kita (jemaat/gereja) tentang pelayanan? Apakah kita telah benar & sungguh menyadari peran dan tanggung jawab setiap orang Kristen terhadap masa depan gereja/kekristenan (spiritual), masyarakat (sosial), negara (nasional) bahkan dunia (global)? Atau pertanyaan lain yang sepadan…Siapa yang sedang kita layani?


Jika kita bicara soal Reformasi yang dicetuskan Martin Luther (meski beliau pun punya kelemahan/kekeliruan dalam keputusannya) terhadap gereja dan bahwa perubahan itu terus bergulir bahkan dalam gereja, tentu muncul pertanyaan: Sedang berubahkah kita (gereja)? Berubah ke arah mana? Pentingkah (ber-impact-kah) perubahan yang sedang terjadi itu? Sejauh mana kita (elemen gereja) memahami perubahan itu dan mendukungnya?


Ini pertanyaan lainnya: Apa bukti konkret (fakta) yang bisa dilakukan gereja/umat Kristen (terutama GKI MY) bagi lingkungannya, sehingga garam yang sedikit itu bisa dinikmati manfaatnya dan terang itu nampak, tidak tersembunyi (atau malu-malu kucing)? Bukan bukti yang bersifat laporan-laporan gerejawi (intern), tapi pernyataan-pernyataan langsung (input/feedback) dari masyarakat sekitar (ekstern) tentang keberadaan gereja (sebagai institusi maupun tubuh Kristus).


Menjadi fasilitator, tentunya bukan sebuah peran ringan, biasa-biasa, basa-basi atau ‘iseng-iseng berhadiah’. Seperti sebuah jembatan penghubung. Sebuah jembatan dibuat tentu tidak sembarangan, butuh perhitungan-perhitungan tertentu, baik secara matematis maupun non-matematis. Biasanya yang matematis ini muncul setelah yang non-matematis ‘terjawab’. Yang non-matematis ini misalnya: Pentingkah dibangun sebuah jembatan? Dimana jembatan itu akan dibangun? Apa saja yang ‘melewati’ (menjadi beban) jembatan itu nantinya (becak, orang, motor, mobil, truk, bus, kereta, atau sepedah onta)? Apakah jembatan itu memiliki nilai strategis (ekonomis, pariwisata, politik, kebudayaan, pendidikan) nantinya bagi kedua wilayah yang terhubung? dsb. Yang matematisnya (banyaknya baja yang diperlukan, semen, dsb.)? Mungkin orang teknik sipil bisa menjelaskan?! Tapi yang mau saya katakan disini adalah bahwa ‘jembatan’ itu tidak serta merta jadi begitu saja, butuh persiapan, perhitungan RAB, SDM, perhitungan target/waktu penyelesaian, rencana cadangan (Plan A, B dst.) untuk antisipasi, dan tentu saja yang tidak boleh dilupakan adalah keberadaan pimpinan proyek dan kepemimpinannya. Kita cenderung enggan ‘melihat ke belakang sekali-sekali (evaluasi), apakah orang-orang mengikuti kita (terjadi pengaruh)?’. Jangan-jangan kita maju terus, tapi ngga ada yang mengikuti (?). Kita cenderung enggan ‘memberi diri’ (atau ‘mengorbankan diri’?) untuk hal-hal yang impact-nya sangat positif meski membutuhkan waktu yang panjang untuk menuai hasilnya. Kita sering terlena dengan sistem kerja Bandung Bondowoso yang membangun Seribu Candi/Rorojonggrang (pinjam istilah Bang Topson J ), ngebut...seolah ada Roh Kudus-nya, padahal yang muncul adalah roh kita sendiri. Mungkin kita terlalu sering mengukur sebuah kefektifan dan efisiensi hanya menurut ukuran-ukuran yang masuk akal kita saja. Mungkin kita tak memberi kesempatan kepada Tuhan untuk menolong dan bekerja sesuai cara-Nya. Kita cenderung hanya ‘melibatkan’ Tuhan dalam doa pembuka dan doa penutup pada setiap rapat. Atau melibatkan Dia, di awal dan akhir kegiatan program/kegiatan pelayanan, sedangkan sepanjang prosesnya kita ‘menyimpan dan membungkam’ Tuhan dalam gudang keegoisan kita. Kalau boleh saya beri istilah terhadap hal ini adalah: pembusukan spiritualitas oleh konspirasi jiwa dan kedagingan. Artinya…kerohanian (spiritualitas) kita mungkin sedang dijangkiti penyakit. Siapa yang tahu?


Long Term Impact!

Nah, gereja (GKI MY) pun dengan perannya sebagai ‘The Facilitator’ perlu (atau harus?) juga mempertimbangkan hal-hal demikian dengan berorientasi jauh ke depan (visionable), tidak hanya (merasa) cukup dengan ‘apa yang sudah dan sedang dilakukan’, atau cukup puas dengan ‘ukuran-ukuran jangka pendek’ yang dicapai tetapi tidak memiliki impact bagi masa depan kekristenan/gereja dan masyarakat luas.

Kita cenderung larut dengan hasil yang impact-nya hanya menyentuh kulit luarnya saja (instan), menyentuh daging dan jiwa-nya pun (mungkin) tidak, apalagi hati. Apa buktinya? Fakta konkretnya antara lain (mungkin ini berhubungan dengan kebiasaan tiap pribadi dirumah masing-masing):


Kebiasaan ngaret (yang tidak bertanggungjawab).


Persiapan/latihan yang seadanya dalam berbagai hal (ngga mau repot).


Menilai tidak penting/urgent bahkan ada yang masa bodo.


Suka membuat exuses (alasan, berkilah).


Merasa ‘sudah biasa/jago’, jadi ngga perlu persiapan/latihan yang sungguh/serius. Bisa karena biasa (terlatih) itu 'ya', tetapi biasa karena bisa?


Melihat dan menjadikan ‘Kasih’ yang diajarkan Yesus Kristus itu dengan perspektif dan implementasi yang keliru, sehingga menghilangkan kedisiplinan, kesungguhan, komitmen, kemauan (antusias) dan unsur-unsur lain yang sebenarnya termuat dalam kasih itu sendiri.


Minimnya hati yang mau melayani dari sekian banyak orang. Seringnya ditunjuk, diminta bahkan ditodong (paksa). Bahkan diminta berdoapun enggan/takut/malu, bahkan ada yang berani, tapi keliru memaknai arti doa (diperparah dengan tidak adanya bimbingan/pembinaan dan kemauan untuk dibimbing/dibina).


Kata ‘sibuk’ (bussy), selalu jadi semboyan, motto, dan 'kredo' selain pengakuan iman rasuli.

Hal-hal tersebut seharusnya tidak kita anggap sebagai sesuatu yang lumrah atau bahkan ditutupi dengan bahasa-bahasa eufimisme yang sebenarnya hanya bentuk lain dari sikap exuses kita terhadap keengganan kita untuk beranjak dari zona nyaman (comfort zone) yang telah me-ninabobok-an kita dari generasi ke generasi, tapi justru seharusnya memotivasi kita untuk terus-menerus diperbaharui (diubah), terus-menerus bekerja keras, mengikisnya (ke-8 fakta di atas) satu-persatu. Ya, sama seperti ranting-ranting yang perlu dipangkas jika ‘tak berguna’. Dimulai dari siapa? Dari diri kita sendiri, dari perkara-perkara yang kecil (dan mungkin kita anggap remeh) dan mulai dari sekarang. Buat saya, ini bukan semboyan Aa Gym dalam Gema Nusa-nya, tapi Tuhan Yesus sendiri yang bilang di Alkitab.

Kalau yang kita anggap dunia sekuler (bahkan dunia Islam) saja cenderung mengadopsi nilai-nilai kekristenan dalam ‘berakar, bertumbuh dan berbuah’, mengapa gereja/kekristenan malah melepaskan diri dari Pokok Anggur-nya, bahkan yang terjadi sebaliknya, cenderung mencangkokan diri pada ideologi atau nilai-nilai sekuler dan tidak Alkitabiah? Bahkan kalau kita perhatikan, mungkin beberapa tubuh Kristus mulai terinfeksi oleh hedonisme, materialisme dan egoisme (atau beberpa penyakit lain seperti yang digambarkan dalam Kitab Wahyu terhadap ke-7 jemaat/gereja). Pelan tapi pasti. Belum lagi – menurut isu terbaru yang saya dapat – saudara-saudara kita yang Muslim (garis keras/eksklusif/ekstrim) terus menerobos dan menguasai posisis-posisi strategis dalam pemerintahan dan mereka tengah sibuk mempersiapkan sebuah generasi pemimpin di masa depan (pernah dengar pesantren Al-Zaitun di Indramayu?). Fakta mengenai hal tersebut semestinya sudah kita rasakan dan kita sadari saat ini. Jangan-jangan kita sedang tidur pulas dan dibuai mimpi indah, hingga kita lupa untuk bangun dan bangkit. Saat kita terjaga dan sadar, kita sudah hanyut dan berada di tengah-tengah hamparan laut lepas. Kini, kita (gereja) tidak bisa bersandar dan berlindung di bawah ketiak pemerintah, seperti zaman ORBA. Atau kita berharap dari luar negeri (negera-negara Barat dan Eropa), kita harus cepat menyadari bahwa kita sedang ketinggalan. Kita (gereja) tak bisa hanya beriman (faith) tanpa menambahkan kebajikan (virtue), pengetahuan (knowledge), penguasaan diri (temperance), ketekunan (patience), kesalehan (godliness), kasih akan saduara-saudara (brotherly kindness) dan kasih akan semua orang (charity). Hmmm…suatu tantangan besar bagi kita (gereja/umat Kristen)?! J


"Tak pernah sesuatu yang besar itu dicapai tanpa antusiasme" (Ralph Waldo Emerson)


GBU,

Dommy Waas

Gereja yang melayani di bumi: Sebuah Wacana (1)

Judulnya agak aneh? Saya rasa tidak. Sengaja saya cetak miring kata ‘di bumi’ agar kita semua menyadari keberadaan kita semua sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang masih wara-wiri di bumi bukan di Nirwana, Alam Roh, pesawat USS Enterprise (Star Trek), Titanic, Air Force One, Dunia Fantasi atau bahkan di Surga (ada yang sudah pernah ke sana?). Saat ini, kita yang hidup, masih tetap ‘mewarnai’ bumi/dunia dengan hati, jiwa, kekuatan dan pikiran kita masing-masing (sebagai pribadi). Dengan tujuan? Tentu saja dengan tujuan! Segala benda/hal yang diciptakan oleh penciptanya tentu memiliki tujuan tertentu, tidak asal ada atau hanya kebetulan semata. Begitu pun dengan kita, yang diciptakan Sang Pencipta. Entah jika di antara kita ada yang tak punya tujuan?! Tapi mungkin saja ada yang begitu (?!). Masalahnya tujuan itu sendiri cenderung didasarkan kehendak kita dan diarahkan untuk diri kita, untuk kepentingan pribadi, bukan berdasarkan kehendak dan bagi Tuhan. Wajar jika kita kadang merasa kekeringan rohani saat kita sudah mencapai / mendapatkan apa yang kita sebut dengan tujuan – sekali lagi – untuk diri kita sendiri.

Lewat tulisan ini, saya hanya ingin mengutarakan gagasan/ide/pemikiran tentang gereja (GKI MY khususnya) kepada saudara/i semua. Dari pada saya simpan sendiri, lebih baik saya sebar, seumpama benih. Siapa tahu ‘benih-benih’ ini jatuh di lahan yang subur, meski sedikit tapi itu lebih baik, ketimbang tidak saya sebar sama sekali. Mungkin tidak banyak, tapi itu bukan sebuah alasan untuk saya (kita) berhenti berbagi. Saya pribadi masih harus terus belajar tentang banyak hal. Beberapa dari rekan-rekan, Bapak dan Ibu, bisa jadi (wajar & sah-sah saja) berpikir bahwa saya terlalu mengada-ada atau berlebihan. Jawaban saya untuk hal-hal seperti itu sederhana saja: "Saya melakukannya karena keterbatasan saya memberi dalam hal material, selain apa yang diberikan/dititipkan dan dianugerahkan Tuhan pada saya dalam bentuk talenta, akal, kemauan and whatever." Mungkin jika dibandingkan dengan perempuan tua yang memberi dua keping uangnya sebagai persembahan kepada Tuhan, saya masih jauh. Saya bahkan merasa malu dengan perempuan tua itu, karena saya merasa belum mencapai iman seperti itu. Tapi mencoba untuk terus mengalami apa yang disebut ‘lompatan iman’ bukanlah sesuatu yang tabu atau memerlukan syarat-syarat khusus yang diukur secara duniawi (dengan akal manusia semata). Kadang kita terlalu dipusingkan –bahkan ada yang sengaja memusingkan diri- oleh kriteria-kriteria buatan manusia yang Tuhan sendiri tak pernah mengatakannya (implisit & eksplisit) dalam Alkitab. Perjumpaan dengan Tuhan yang semestinya sederhana dan mudah dimengerti, terlalu sering dibuat oleh manusia menjadi rumit, dogmatis dan memusingkan. Bahasa yang meluncur adalah ‘bahasa roh’ yang njelimet dan membuat orang lain hanya kagum pada keangkuhan yang tanpa kita sadari sedang kita bangun menjadi ‘berhala-berhala’ di sisi Tuhan. Menurut saya pribadi, kita perlu memiliki pijakan awal dan landasan saat kita melompat (melakukan lompatan iman), yaitu: kebenaran yang berasal dari Allah. Bukan sekedar kebaikan, nilai moral dunia dan akal budi manusiawi yang serba terbatas. Saat ini, sulit bagi kita untuk mengatakan kebenaran di tengah-tengah ketidakbenaran. Kita (orang Kristen) hanya hafal satu ayat andalan: "Jangan menghakimi!", sedangkan banyak hal yang memang seharusnya kita "hakimi" (pinjam istilah seorang penulis buku Kristen, D.James Kennedy). Perlahan-lahan, generasi muda kita bisa jadi akan pandai berkelit dan sembunyi dibalik kata ‘kasih’ dan ‘jangan menghakimi’. Dan akhirnya harus menukarkan imannya dengan tawaran-tawaran yang ‘logis’, dangkal dan menggiurkan, seolah ada jarak antara yang rohani dan yang bukan rohani, antara iman dan keraguan, antara logika dengan iman. Segala sesuatu lantas cepat kita nilai dengan dosa-tidak dosa, hitam-putih, terang-gelap, kami-mereka. Sampai kapan? Padahal dunia tidak seperti itu. Bahkan kita harus melalui ‘jalan yang sempit’. Baiklah, saya akan mulai dengan satu peran yang ‘keren’ dan agak berbau Hollywood J




THE FACILITATOR: Wow…Keren?!

Kenapa saya bilang ‘keren’? Persis seperti judul-judul film layar lebar: The Negotiator, Terminator, Predator, The Corruptor, (ada yang mau meneruskan?).

Yang saya tahu Visi GKI (MY) adalah: Memfasilitasi (menjadi fasilitator) Perjumpaan Manusia dengan Allah. Dengan Visi seperti itu, tentunya GKI MY perlu posisi strategis sebagai fasilitator. Artinya peran itu bukanlah peran yang asal jadi / asal diterima, atau kalau boleh saya katakan hanya dengan ‘modal nekat’, tetapi butuh sebuah keyakinan (iman) yang –dengan segala keterbatasan dan kelebihannya- dijalankan dan diterima dengan akal sehat. Dijalankan dan diterima dengan akal sehat maksudnya adalah GKI MY sudah faham dan tahu konsekwensi apa yang harus diemban, tanggung jawab seperti apa yang harus dipertanggungjawabkan kepada para ‘stakeholder’ (kepada Tuhan, jemaat dan masyarakat luas), atas peran fasilitator tersebut. Juga, tentunya strategi apa (inspiring employees, building leaders at every level, and delivering results) yang harus dilakukan mulai dari awal dan dalam perjalanan panjang untuk mencapai visi tersebut. Butuh kerja keras, komitmen, kesungguhan, disiplin dan kemauan (antusias), selain iman (faith), pengharapan (hope) & kasih (love). Maaf, saya tak bermaksud menambah-nambahkan ayat dalam firman Tuhan, tetapi ketiga unsur penting itu pada penerapannya justru menjadi semacam exuses gereja (sebagian umat Kristen saat ini) untuk mengabaikan kelima unsur yang saya sebutkan, bahkan diselewengkan (terjadi pendistorsian) maknanya, disadari atau tidak, pelan namun pasti. Dan parahnya…kita enggan mengakuinya.


Bangunlah dan Bangkitlah!

Mengapa saya menyoroti hal-hal yang sepertinya terkait dengan kepemimpinan? Bukan, bukan karena saya salah satu anggota dari Tim Kepemimpinan GKI MY. Saya bahkan masih harus belajar kepada ‘para senior’ saya. Tapi karena semakin hari saya semakin disadarkan bahwa akhirnya saya -sebagai umat Kristen yang mengaku percaya saat di baptis sidi, juga mengucapkan pengakuan iman rasuli tiap hari Minggu - seharusnya ikut serta/berperan dalam permasalahan yang terjadi dalam kekristenan, terutama gereja, khususnya di GKI MY (lebih dari itu adalah permasalahan-permasalahan sosial masyarakat kita). Dulu saya sempat berpikir bahwa: "Gereja/kekristenan adalah urusan para pejabat dan gembala gereja saja, ngapain pusing-pusing". Tapi dengan pemahaman, pembelajaran, teguran dan pengetahuan yang Tuhan berikan dalam hidup saya, maka saat ini rasanya saya ingin 'berteriak' sekeras-kerasnya kepada diri sendiri & semua orang Kristen seperti Paulus dalam Efesus 5:14: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu."

"Bangunlah" & "Bangkitlah", memberi inspirasi bagi saya untuk terus-menerus melakukan sesuatu dalam keadaan apapun, kecil atau besar.

Ditambah lagi ketika saya semakin tertarik dengan tema ‘kepemimpinan’ dalam beberapa buku yang pernah dan sedang saya baca maupun berita-berita dan isu-isu hangat seputar kepemimpinan baik di Indonesia (lokal) maupun dunia (global). Terakhir, saya menerima e-mail dari Bang Jeffrey berupa makalah seminar dengan judul yang menantang dan provokatif (menurut saya J ): ‘Kepemimpinan Biblikal di tengah Dunia: Romantis atau Realistis?’ Saya akan mengutip beberapa paragraf saja.


(1) Gereja pun tidak imun dari krisis kepemimpinan. Gereja yang seharusnya menghasilkan pemimpin yang tinggi iman, tinggi ilmu, dan tinggi pengabdian malah terkontaminasi dengan berbagai masalah kepemimpinan. Peneliti Kristen George Barna menyimpulkan hasil studinya selama 15 tahun tentang kehidupan gereja secara global dengan konklusi sebagai berikut: Gereja telah kehilangan pengaruhnya karena absennya kepemimpinan yang efektif.


(2) Ada sebuah megatrend global yang jarang bahkan hampir tidak pernah dibahas, namun sangat mengenaskan dan menyedihkan bagi saya. Dunia bisnis yang seringkali dipersepsi sebagai dunia yang sekuler, kotor dan keras semakin gencar mengadopsi prinsip dan pola kepemimpinan yang biblikal/alkitabiah (meskipun mereka tidak menyadarinya). Sementara di pihak lain, gereja malah mengaborsi prinsip dan pola tersebut.


(3) Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa kepemimpinan adalah pelayanan, dan pemimpin adalah pelayan.Pemimpin Kristen haruslah seorang pemimpin-pelayan. Bahkan secara esensi, ia adalah seorang pelayan/hamba, bukan pemimpin (Luk 22 :27). Disini ‘being’ lebih penting daripada ‘doing’. Jadi pemimpin-pelayan lebih mengacu kepada natur seorang pelayan (being a servant), bukan aksi melayani (doing service) yang diterapkan apabila diperlukan


(4) Namun filosofi kepemimpinan yang biblikal ini diaborsi oleh para pemimpin Kristen. Saya kira sulit menemukan orang yang mampu mengungkapkan fenomena ini dan membahasakannya lebih tepat dan lebih baik dari John Stott. Setelah berkeliling melayani ke berbagai negara dan melakukan observasi terhadap para pemimpin Kristen selama 35 tahun, John Stott membuat sebuah kesimpulan sebagai berikut :


Our model of leadership is often shaped more by culture than by Christ. Yet many cultural models of leadership are incompatible with the servant imagery taught and exhibited by the Lord Jesus. Nevertheless, these alien cultural models are often transplanted uncritically into the church and its hierarchy. In Africa it is the tribal chief, in Latin America the exaggerated masculinity of the Spanish male, in South Asia the religious guru fawned on by his disciples, in East Asia the Confucian legacy of the teacher’s unchallengeable authority, and in Britain the British Raj mentality.


(5) Pemimpin Kristen mencampakkan prinsip kepemimpinan yang Tuhan Yesus sendiri ajarkan dan modelkan. Sementara di dunia bisnis, sebuah silent revolution terjadi di tahun 1977 ketika seorang eksekutif perusahaan telekomunikasi AT&T bernama Robert Greenleaf menulis sebuah buku berjudul Servant Leadership: A Journey Into the Nature of Legitimate Power and Greatness.

(6) Dalam buku tersebut, Anda tidak akan menemukan referensi terhadap jargon-jargon Kristen disana, apalagi ayat Alkitab. Greenleaf bahkan mengaku ia tidak mendapat ide servant leadership dari Alkitab, namun dari sebuah cerita mitos di novel Herman Hesse yang berjudul Journey to the East. Namun coba baca ide sentral Greenleaf dan bandingkan betapa mirip dengan prinsip Yesus tentang kepemimpinan:

The servant leader is a servant first (italics original). It begins with the natural feeling that one wants to serve, to serve first. Then conscious choice brings one to aspire to lead.. The difference manifests itself in the care taken by the servant - first to make sure that other people’s highest-priority needs are being served (1977:13)

bersambung.....Gereja yang melayani di bumi: Sebuah Wacana?(2)

GBU,

Dommy Waas

Thursday, April 15, 2004

Sayap-sayap Hati

Sayap-sayap Hati

Saat pagi masih redup dalam gelap
Dan dirimu terjaga di tengah-tengah senyap;
Ketika engkau menjumpai dirimu letih lesu,
Diamlah sebentar…
Lihatlah setiap ruang di dalam jiwamu dan rohmu,
Bukalah pintu hatimu dengan harapan dan cinta
Meski mungkin imanmu lebih kecil dari biji sesawi;

Tidaklah keliru jika engkau bermimpi
Menemukan sayap-sayap pada tubuh dagingmu;
Bukanlah sebuah kemurtadan jika engkau berharap
Melayang-layang dalam kebebasan tak terperi di bumi;
Tak satu jiwa pun yang mutlak dalam dogmatikanya
Mencegahmu mencari kepastian hidup yang abadi;

Engkau memang tak diciptakan untuk menjadi liar
Atau menjadi hanya seperti keinginanmu dan hasratmu;
Engkau hanyalah ‘yang diciptakan’
Dalam rupa dan citra Sang Pengasih
Mungkin dalam penglihatan-NYA…
Engkau menjadi ganjil dan tak sempurna;
Bila engkau hanya mengandalkan sepasang sayap
Bertengger di punggungmu,
Engkau akan selalu menjadi santapan iblis
Manakala kedua sayap di punggungmu terkulai patah tak berdaya;

Tapi BAPA begitu mengasihimu…
Sehingga IA tahu di mana letak sepasang sayap itu seharusnya;
Ia merekatkannya pada hatimu,
Hingga engkau tahu kemana engkau harus pergi;
Saat keraguan, kekalutan, kepedihan, ketakberdayaan,
Bahkan saat tersenyum dan tertawa;
Ya…engkau akan mengepakan sayap-sayap hatimu
Pada Sang Jalan, Kebenaran dan Hidup.

Tidakkah engkau bersyukur pada-NYA
Bahwa ketika tubuh dan jiwamu tercabik-cabik
Oleh warna-warni kepongahan dunia…
Rohmu dengan segenap daya menghampiri-NYA,
Hingga IA tak membiarkan dirimu hancur berkeping
Atau menjadi serpih yang tergeletak tak bermakna?

Cinta-NYA yang deras dan lembut tak tertandingi cintamu,
Cinta-NYA menjadikan engkau yang tak bersayap, bahkan patah,
Selalu memiliki sayap-sayap baru;
Cinta-NYA memberikan lebih dari sekedar kedamaian kasat mata,
Dan engkau pun akan memahami hikmat dan rancangan-NYA
Bagi hidup dan kehidupanmu;

Karena IA, Yesus Kristus, pun tak bersayap
Saat berjalan-jalan menyusuri bumi,
Saat IA membagikan berkat surgawi,
Pada jiwa-jiwa yang haus dan lapar akan kebenaran Ilahi,
Bahkan ketika IA terlihat tak berdaya meregang nyawa,
Dipelukan tiang salib penderitaan;

Adalah lebih indah ketika sayap-sayap itu ada dalam hatimu
Bukan pada tubuh fanamu yang adalah debu.
Kepakkanlah sayap-sayap hatimu,
Terbanglah di langit-langit ciptaan-NYA,
Hinggaplah pada kaki dan tangan-NYA yang kokoh;
Engkau akan diraih-Nya,
Engkau akan ditangkap-Nya,
Dalam iman,
Dalam pengharapan
dan cinta.


Orientalfly
BDG, 15 April 2004

Re: 6 Feb 2005: Menjelang Paskah

Sayap-sayap Hati

Saat pagi masih redup dalam gelap
Dan dirimu terjaga di tengah-tengah senyap;
Ketika engkau menjumpai dirimu letih lesu,
Diamlah sebentar…
Lihatlah setiap ruang di dalam jiwamu dan rohmu,
Bukalah pintu hatimu dengan harapan dan cinta
Meski mungkin imanmu lebih kecil dari biji sesawi;

Tidaklah keliru jika engkau bermimpi
Menemukan sayap-sayap pada tubuh dagingmu;
Bukanlah sebuah kemurtadan jika engkau berharap
Melayang-layang dalam kebebasan tak terperi di bumi;
Tak satu jiwa pun yang mutlak dalam dogmatikanya
Mencegahmu mencari kepastian hidup yang abadi;

Engkau memang tak diciptakan untuk menjadi liar
Atau menjadi hanya seperti keinginanmu dan hasratmu;
Engkau hanyalah ‘yang diciptakan’
Dalam rupa dan citra Sang Pengasih
Mungkin dalam penglihatan-NYA…
Engkau menjadi ganjil dan tak sempurna;
Bila engkau hanya mengandalkan sepasang sayap
Bertengger di punggungmu,
Engkau akan selalu menjadi santapan iblis
Manakala kedua sayap di punggungmu terkulai patah tak berdaya;

Tapi BAPA begitu mengasihimu…
Sehingga IA tahu di mana letak sepasang sayap itu seharusnya;
Ia merekatkannya pada hatimu,
Hingga engkau tahu kemana engkau harus pergi;
Saat keraguan, kekalutan, kepedihan, ketakberdayaan,
Bahkan saat tersenyum dan tertawa;
Ya…engkau akan mengepakan sayap-sayap hatimu
Pada Sang Jalan, Kebenaran dan Hidup.

Tidakkah engkau bersyukur pada-NYA
Bahwa ketika tubuh dan jiwamu tercabik-cabik
Oleh warna-warni kepongahan dunia…
Rohmu dengan segenap daya menghampiri-NYA,
Hingga IA tak membiarkan dirimu hancur berkeping
Atau menjadi serpih yang tergeletak tak bermakna?

Cinta-NYA yang deras dan lembut tak tertandingi cintamu,
Cinta-NYA menjadikan engkau yang tak bersayap, bahkan patah,
Selalu memiliki sayap-sayap baru;
Cinta-NYA memberikan lebih dari sekedar kedamaian kasat mata,
Dan engkau pun akan memahami hikmat dan rancangan-NYA
Bagi hidup dan kehidupanmu;

Karena IA, Yesus Kristus, pun tak bersayap
Saat berjalan-jalan menyusuri bumi,
Saat IA membagikan berkat surgawi,
Pada jiwa-jiwa yang haus dan lapar akan kebenaran Ilahi,
Bahkan ketika IA terlihat tak berdaya meregang nyawa,
Dipelukan tiang salib penderitaan;

Adalah lebih indah ketika sayap-sayap itu ada dalam hatimu
Bukan pada tubuh fanamu yang adalah debu.
Kepakkanlah sayap-sayap hatimu,
Terbanglah di langit-langit ciptaan-NYA,
Hinggaplah pada kaki dan tangan-NYA yang kokoh;
Engkau akan diraih-Nya,
Engkau akan ditangkap-Nya,
Dalam iman,
Dalam pengharapan
dan cinta.


Orientalfly
BDG, 15 April 2004